Sabtu, 10 Januari 2009

Senin, 04/12/2006 14:43 WIB
Pengganti Formalin Yang Aman
Odilia Winneke - detikFood

GB
Jakarta - Formalin memang bukan bahan tambahan untuk makanan. Formalin merupakan bahan yang banyak dipakai dalam industri kayu lapis, pupuk, kosmetik, plastik, kaca, insektisida dan pengawetan mayat. Mengapa bisa dipakai dalam pembuatan mi, bakso, dan tahu? Apa saja bahan pengganti yang aman? Buku mungil ini memberikan jawabannya.

Meskipun pembicaraan marak seputar pemakaian formalin untuk bahan tambahan dalam industri makanan sudah reda, bukan berarti Anda tidak perlu waspada. Jika Anda memiliki industri makanan rumahan seperti bakso, mi basah, tahu atau ikan asin, Anda bisa belajar dari buku ini. Buku setebal 63 halaman berjudul 'Alternatif Pengganti Formalin pada Produk Pangan' yang ditulis oleh Ir. Tri Dewanti Widyaningsih dan Erni Sofia Murtini STP, MP ini mengungkap segala hal seputar pemakaian formalin dalam bahan makanan plus pemakaian bahan pengganti formalin yang aman.

Buku ini diawali dengan bab Formalin bukan bahan Tambahan Makanan yang mengupas mengenai Bahan Tambahan Makanan (BTM) yang diatur oleh UU RI Nomor 7 tahun 1996. Alasan utama orang beralih ke formalin yang bukan BTM adalah karena formalin harganya murah dan mudah didapat. Bukan hanya itu karena bentuknya cair, maka proses pengolahan menjadi lebih singkat. Formalin inilah yang membuat tekstur bakso, tahu dan mi menjadi kenyal, lentur dan tidak mudah basi.

Bahaya yang mengancam bagi kesehatan kita diungkap secara lengkap dalam bab 'Bahaya Formalin'. Aroma formalin yang menyengat sebenarnya sudah memberi indikasi bahwa zat tersebut berbahaya bagi kesehatan. Jika terhirup bisa membuat pusing kepala, rasa terbakar, hingga infeksi saluran pernafasan. Jika dikonsumsi dalam jumlah banyak bisa menyebabkan kerusakan lambung, hati, ginjal hingga jantung. Untuk mendeteksi apakah suatu makanan mengandung formalin, kedua penulis membeberkan cara mengukur atau mengetes makanan berformalin yang dilengkapi juga dengan cirri-ciri makanan yang mengandung formalin. Dari ikan segar, bakso, tahu, ikan asin hingga mi segar.

Pada bab selanjutnya 'Bahan Pengganti Formalin pada Makanan' diuraikan pemakaian BTM yang sesuai aturan dan tidak melanggar UU pemerintah serta relatif murah. Mulai dari pemakaian Sodium Tri Poly Posphate (STPP) untuk mi dan bakso yang bisa memberi ekstur kenyal. Aturan pemakaian dan jenis-jenis yang dijual di pasaran dituturkan secara lengkap. Demikian juga dengan pemakaian Gliserin atau Gliserol dan Carboxy Methyl Cellulose (CMC) untuk Mi basah. Juga pemakaian garam dapur untuk ikan asin dan tahu, cuka untuk merendam tahu dan pemakaian anaeka bumbu dapur untuk pengolahan ikan. Pemakaian zat yang aman itu bukan hanya murah, sehat tetapi juga berfungsi sebagai pengenyal, pengawet dan penambah cita rasa.

Menutup uraian mengenai BTM yang aman, dijelaskan secara rinci mengenai tahapan pembuatan bakso, mi Basah, ikan asin, tahu tanpa formalin. Detil tiap tahapan proses produksi berikut takaran bahan pengganti formalin dijelaskan secara detil. Nah, tunggu apa lagi? Segera saja miliki buku terbitan Trubus Agrisarana ini.


Alternatif Pengganti Formalin pada Produk Pangan
Ir. Tri Dewanti Widyaningsih dan Erni Sofia Murtini STP, MP
Tahun 2006
Bisa dibeli di semua toko buku di Indonesia
Harga : Rp. 19.000,00
( ely / Odi )

Jumat, 09 Januari 2009

Hati-hati Beli Nata de Coco di Pasar...



Tiga hari yang lalu saya beli Nata de Coco 2 bungkus di Pasar Besar Malang. Saya selalu beli Nata de Coco selalu yang tawar (tidak manis) dalam bungkusan plastik. Saya beranggapan kalo beli Nata yang manis pasti gulanya gula sintetis ( Sakarin or suklamat) kan gak aman... Sampai di rumah Nata saya buka airnya saya buang lalu saya cuci. Saya agak curiga kok baunya tidak asam seperti biasanya bau asam cuka ? baunya beda agak menyengat.. tapi saya cuci saja dan saya tambahkan daun pandan kemudian saya rebus..biasanya saya tambahkan gula pasir. Tapi kali ini tidak saya tambahkan gula pasir hanya saya rebus saja dan airnya saya buang karena akan saya campurkan dengan sirsak dan potongan buah nangka ( es Menado..katanya). Es Menado sudah siap nih... saya cicipi ..eh rasanya kok aneh gini...pahit ! Kenapa ya...? wah...saya curiga dengan Nata de coconya nih... saya ambil dan saya rasakan...emang benar..pahit !. Jengkel rasanya...es Menadoku..terpaksa saya buang...oh padahal siang-siang terik gini..kan enak tuh minum es sirsak..eh..es Menado!
Kenapa Nata de Coco bisa terasa pahit ..? Nata de Coco adalah hasil fermentasi air kelapa dengan bakteri Acectobacter xylinum yang menghasilkan serat (Nata) dan asam cuka. Dalam proses fermentasi tersebut untuk merangsang pertumbuhanbakteri sering ditambahkan senyawa Nitrogen.. Nah ini.. yang karena kurang pengetahuan biasanya pembuat Nata menambahkan pupuk urea yang mengandung senyawa nitrogen pada fermentasi nata..karena harga pupuk urea jauh lebih murah dari pada senyawa nitrogen lainnya yang lebih aman..apalagi ukuran penambahannya sembarangan..akibatnya rasanya menjadi pahit dan tidak aman untuk kesehatan..emang Nata yang dihasilkan warnanya menjadi lebih putih jernih menarik...
Oh.. dimana mendapatkan bahan makanan yang aman di negara tercinta ini yaa...?

Kamis, 25 Desember 2008

Jangan Bersedih karena Tertimpa Kesulitan!


Kesulitan-kesulitan itu, sebenarnya akan menguatkan hati, menghapuskan dosa, menghancurkan rasa ujub, dan menguburkan rassa sombong. Kesulitan-kesulitan itu; akan meluruhkan kelalaian menyalakan lentera dzikir, menarik empati sesama, menjadi doa yang dipanjatkan oleh orang-orang yang salih, merupakan wujud ketundukan kepada tiran, merupakan sebuah penyerahan diri kepada Dzat Yang Esa, merupakan sebuah peringatan dini, sebuah upaya untuk menghidupkan dzikir, merupakan upaya untuk menjaga hati dengan bersabar, merupakan persiapan untuk menghadap Sang Tuan dan sebuah sentilan untuk tidak cenderung pada dunia, merasa aman dan tenang dengannya. Karena kelembutan yang tersembunyi itu jauh lebih besar , dosa yang ditutupi itu jauh lebih besar, dan kesalahan yang dimaafkan juga lebih besar.

(dari : La Tahzan- Jangan bersedih ! - Dr. Aidh al-Qarni)